KECAMATAN KAPUR IX

KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

KIRAB PAWAI BUDAYA : KAPUR IX HADIRKAN TRADISI MINTA HUJAN DI PEKAN BUDAYA

Admin
Selasa, 08 Agustus 2023
117 Dibaca
...

KIRAB PAWAI BUDAYA : KAPUR IX HADIRKAN TRADISI MINTA HUJAN KOTO LAMO DI PEKAN BUDAYA LIMA PULUH KOTA

Muaro Paiti 07082023— Dalam rangka memeriahkan Pekan Budaya Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2023, Kecamatan Kapur IX menampilkan arak iriang tradisi minta hujan dalam pawai budaya yang digelar di Halaman Kantor Bupati Lima Puluh Kota di Sarilamak pada Senin, 7 Agustus 2023. Pawai Budaya yang digelar pada pembukaan Pekan Budaya ini diikuti oleh seluruh kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota dengan tema berdasarkan tradisi masing-masing.

Kecamatan Kapur IX memilih untuk mempertunjukkan tradisi minta hujan dari Nagari Koto Lamo. Tradisi warisan nenek moyang masyarakat setempat ini sudah dilakukan turun temurun dan perlu dilestarikan agar generasi mendatang mengetahui khasanah budaya di nagari kita. Tradisi minta hujan ini dilakukan apabila kemarau panjang melanda sehingga lahan pertanian yang merupakan sumber penghidupan masyarakat mengalami kekeringan.

Adapun tahapan pelaksanaan minta hujan ini dimulai dari musyawarah yang dilakukan oleh pemangku adat, alim ulama dan cadiak pandai di nagari tersebut. Setelah disepakati akan dilakukan ritual minta hujan ini, maka diumumkan kepada  waktu dan tempat pelaksanaan ritual oleh hulubalang nagari dengan memakai canang (manggugua canang). Waktu pelaksanaan dilakukan pada malam hari sementara tempat pelaksanaannya adalah salah satu sumber mata air di nagari tersebut yang disebut sumber air Lubuak Mato Kuciang.

Selanjutnya dilakukan arak-arakan sepanjang jalan nagari sambil menggendong kucing belang tiga yang dilakukan oleh bundo kanduang nagari setempat. Rombongan arak-arakan terdiri dari pemangku adat, alim ulama, cadiak pandai, tokoh masyarakat, bundo kanduang, dan seluruh masyarakat. Arak iriang ini dimulai dari gelanggang nagari menuju Lubuak Mato Kuciang dengan jarak sekitar 2 km. . Arak-arakan itu, diiring oleh alat musik kesenian  tradisional seperti talempong, gong dan suliang sambil melantukan  syair dengan lirik :

“oooooi mika’iah (malaikat mikail, red)

Hari ko paneh sajo

Kami mamintak hujan

Hari hujan ndak omua hujan

 

Panjaik panjuluak bulan

Tibo dibulan pata tigo                                            

Di langik hari nan hujan

Di bumi mangosan tido

 

Salowe daun tale ko

Daun kawa badariang-dariang

Salamo hari pane ko

Banyak sawah kunntang kariang.         

Setelah sampai di Lubuak Mato Kuciang, akan dilakukan pembakaran kemenyan dan marosok ramuan sambil berdoa. Setelah itu, kucing belang tiga yang digendong oleh bundo kanduang sepanjang arak iriang tadi akan dimandikan dengan air dari Lubuak Mato Kuciang tersebut. Usai memandikan kucing, ritual minta hujan dianggap selesai. Peserta arak iriang akan pulang ke rumah masing-masing. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, dalam perjalanan pulang peserta arak iriang, hujan gerimis akan mulai turun yang menandakan ritual minta hujan tersebut berhasil dilakukan. (naf)

Berita terkait
Senin, 02 Desember 2019 279 Dibaca
Rabu, 02 Oktober 2019 257 Dibaca
Selasa, 03 September 2019 266 Dibaca
share Bagikan berita
facebook Facebook
whatsapp Whatsapp
twitter Twitter
`

Feedback